Senin, 25 April 2011

Lemukih buah bibir

Ada sebuah desa, Lemukih namanya yang terletak di lembah yang indah dan subur. Berpagar bukit nan hijau di hampir semua arah, membentuk gelang hijau melingkari wilayahnya. Ibarat alam hendak melindungi dan merahasikan sesuatu di sana. Lebih-lebih di jaman perjuangan kemerdekaan. Daerah ini sangat strategis dan sulit dijamah tentara penjajah karena keberadaannya yang di rimba terisolasi. Di sini pulalah sering para pemuda/pejuang kemerdekaan yang terdesak oleh kejaran tentara musuh waktu itu, menyembunyikan diri dan ...terselamatkan. Lokasinya tak jauh dari Danau Buyan dan Danau Tamblingan dan hanya berbatasan bukit Cemara Geseng dengan Desa Gitgit, Desa Silangjana, Pegayaman dan lainnya.

Karena relatif berada di daerah ketinggian, serta merupakan sumber air bagi daerah di bawahnya, seperti Desa Sudaji, Sekumpul, dan sederet desa lainnya sampai desa Penarukan di pesisir pantai Utara Bali maka lahannya mempunyai kemiringan cukup tinggi. Lebih-lebih lagi, dengan banyaknya sungai dan jalur-jalur air dari puncak-puncak bukit, membuat banyak gerusan-gerusan dan tebing-tebing ukiran alam. Alam membuat sendiri guratannya. Dan itulah yang sering disukai oleh para tourist khususnya yang berasal dari Eropa, sebagai pemandangan yang apa adanya, asli dan nikmat untuk tracking.

Di satu titik konsolidasi, beberapa sungai bertemu dan terciptalah beberapa air terjun di batas wilayah dengan dua desa yang disebut di atas. Gelegar air terjun membuih bak salju turun yang di langit Eropa, mencipatakan suasana eksotis dan kadangkala magis bagi yang merasakan. Betapa tidak. Lima air terjun yang membuat leher mendongak 90 derajat, dalam deretan yang tak terlalu berjauhan, mempertontonkan kepada pengagum alam dan peminat rekreasi sehat dan segar. Memang infrastruktur jalan menuju lokasi masih belum mulus... namun di situ pulalah letak nikmatnya. Demikian para tourist berkomentar.

Sebagai daerah ketinggian, maka hampir semua flora bisa tumbuh dengan subur di sini. Beragam pohon buah-buahan, cengkeh, kopi bersaing ingin menguasai teritori. Petani dan pemilik tanah pun kadang dibuat bingung hendak menanam apa yang terbaik. Semua tumbuh semua bisa. Maka mulailah tercipta penanaman dan pertanian yang perpola tidak tetap. Kalau buah cengkeh harganya mahal, maka beramai-ramailah menanam cengkeh. Kopi lalu dianaktirikan. Demikian sebaliknya. Kalau harga kopi yang melonjak, pohon cengkeh disesali. Yang kelihatannya aman, hamparan padi masih relatif stabil, mungkin karena penduduknya belum semua bisa makan roti...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan beri opini